Sayang Petani

Izinkanlah Petani Menjadi Kaya

Posted on: Maret 28, 2011

Kok nggak ada petani di kota yaa? Kok petani rata-rata pendidikannya rendah? Kok petani rumahnya kebanyakan mirip gubuk? Kok, Kok, dan Ayam berkokok pun menjawabnya dengan suara yang memekakkan telinga bahwa memang begitulah kehidupan sebagian atau bahkan hampir seluruh petani di Indonesia. Kita sering mendengar istilah petani gurem. Awalnya, saya mengira bahwa petani gurem itu adalah petani yang sudah mapan dan sukses karena kebanyakan petani kita itu terkurung dalam istilah ini. Dan ternyata petani gurem itu adalah petani yang hanya mempunyai lahan kurang dari 0,5 Ha. Sudah lahannya nggak cukup sehektar, eh masih dibawah setengah hektar lahan petani kita. Bahkan banyak petani yang nggak mempunyai lahan, mereka hanya bekerja sebagai penggarap, penyewa, penyakap ataupun menjadi buruh tani yang upahnya masih nggak bisa diharapkan sepenuhnya. Ya jelaslah nggak bisa diharapin upahnya, yang bayar kan petani juga. Jadinya serba pas-pasan dong.

Kenyataannya memang demikian kehidupan petani kebanyakan di negara ini. Apa yang menjadi masalah sehingga kehidupan petani kita menjadi seperti ini? pertanyaan ini seringkali didengungkan di bangku kuliah. Kalau menurut pengamatan seseorang, hal ini diakibatkan oleh banyak hal, mulai dari masalah internal atau petani sendiri, masalah kebijakan pemerintah, dan tengkulak menjadi permasalahan terbesar yang harus dihadapi petani. Mengapa tengkulak? karena tengkulak lah yang memiliki peranan paling penting dalam rantai pemasaran hasil pertanian. Tengkulak sering mempermainkan harga beli hasil petani. Misalnya, petani sudah panen dan berhasil mendapatkan produksi gabah sekian karung. Kemudian petani pergi ke pabrik penggilingan yang pembayarannya dilakukan dengan sistem tukar atau tidak dibayar dengan uang melainkan dibayar dengan beras hasil gilingan dari gabah petani. Hal ini pasti, karena biasanya petani nggak punya uang untuk bayar pabrik penggilingan tersebut, otomatis bayarnya pakai beras.

Nah, setelah digiling dan menjadi beras siap konsumsi datanglah tengkulak menawarkan harga beli kepada petani. Tengkulak itukan pedagang, dan tidak akan ada pedagang yang mau rugi. Oleh karena itu, tengkulak membeli beras petani dengan harga dibawah harga pasar. Katanya tengkulak sih, buat ganti ongkos transportasi dari desa ke pasar. Akan tetapi, harga bali beras petani terlalu rendah, sehingga petani kita hanya mendapatkan sedikit bagian dari hasil jerih payah mereka seleama berbulan-bulan dan inilah salah satu faktor yang menjadi penyebab petani kita miskin penghasilan. Kalau kalian bisa menganalisa tulisan ini, sebenarnya penyebab petani sehingga tidak beranjak dari kemiskinan adalah karena dirinya sendiri, seperti yang saya sebutkan sebelumnya selain kebijakan pemerintah tentunya.

Klo begitu, kalian bisa renungkan terlebih dahulu atau bertanya-tanya sendiri mengapa hal ini bisa terjadi?? Menurut saya, karena memang begitu adanya. Terus alasan lain petani miskin kan masih ada penyebab lainnya, yaitu karena petani sendiri dan kebijakan pemerintah. Okelah, nanti saya lanjutin ya tulisannya. Kalau dibahas nanti kepanjangan ceritanya dan nggak nyambung lagi dengan pokok permasalahan. Sekalian saya mau nanya petani dekat rumah saya lagi, hitung-hitung nambahin cerita saya selanjutnya. Maaf yaa sudah buat kalian penasaran dan mengeluh. Maaf sekali lagi yaaa. Pasti saya lanjutin kok ditulisan saya berikutnya.

6 Tanggapan to "Izinkanlah Petani Menjadi Kaya"

jngan menilai semua dri satu sudut pnadang,, 3 tahun sy brgelut dgn petani2 kapas,,yah krn mmg itulah tugasku mndampingi petani kapas pada khususnya,,,jangan salah petani kita a/ petani agrokomplekz,,bkn hanya 1 komoditi,,bahkan ada petani sy petani sawah/petani kapas/kakao/jagung dll serta beternak pula,,,jgn mnile dia tdk punya apa2,,rmhnya mmg gubuk,,tapi tanahnya,,ampuuunnn,, dmana2,,ngapain mereka mbangun rumah besar dtngah desa,,,itu a/ adat mereka,,,ato banyak pula dg alasan tuk skolah anaknya,,pkoknya petani yg btul2 tau arti dri petani itu sndiri hakekatnya kaya,

wow, this is new idea for me. thanks your advice. this is new challenges for me to make it new story about farmer. But, reality average farmer very poor. This is idea, give me new story about how to plan farmer live for future because son farmer not to became a farmer.

Berbicara tntng Petani Miskin ckp rumit.,ada yg miskin ada jg yg ckp (kaya)…soalx sy ga prnh liat saldo BuRekx…^_^…

Umumx Petani Kaya tp Miskin :

Lahan byk ilmu minim (bkn brrti sy byk ilmu).,lahan mrka umumx d olah utk d warisx kpd anak cucu mrka (utk jd Petani jg).,fakta yg sy dpt adlh mrka umumx tdk memiliki motivasi utk menyekolahkan anakx setinggi mgkn hny sbagian KECIL.,sjk kecil ato usia SD mrk sdh trjun k lap ikut bantu OrTu..,shngga itulah yg trbangun dlm jiwa mrka.,krja d lap utk d jual hslx dpt uang jg utk d mkn sndiri…ngapain ssh jd Sarjana klo toh (ssh) cr krja jg.,mending garap lahan (sawah) sendiri kan udah bisa hasilx duit…itulah sedikit Paradigma yg terbangun d masyarakat Tani qt…akhirx faktor ekonomi pun jd alasan utk tdk mengenyam pendidikan yg lbh tinggi…inilah yg trus berputar d kepala mrka…
Knp sy sorot PENDIDIKANx..>>”ALLAH SWT akan mengangkat derajat org2 yg brilmu”…Terbukti kan…
Sy melihat Pemerintah sdh brupaya agar anak2 Petani bs berpendidikan tinggi.,slh satux adalah pemberian beasiswa bg mrka yg berprestasi bhkn d tkt SD itupun klo tergolong tdk mampu.,ntah jg yaa apakah anak yg brprestasi ini mrka kawal truss utk tkt Pendidikan yg lbh tinggi ato tdk.,tktx tamat SD beasiswa pun brakhir.,pusing lg OrTux…Kembali ke Sawah…
Adapun utk Petani.,berbagai Program pun d luncurkan k Desa utk meningkatx Produktivitasxi.,mulai dr Pelatihan utk PokTan, bantuan dana mlalui Program PUAP.,MANDIRI PANGAN.,WANITA TANI NELAYAN.,PNPM Pedesaan.,bantuan alat2 dan mgkn msh byk lg jenis bantuan lainx…
Klo bs De Yusran tlg paparx kebijakan Pemerintah yg menyebabkan Petani Miskin sprti apa…
Utk smntara ini comment yg bs sy berikan.,mhn maaf jk kurang passs…Hehe…(pake ukuran kaliii)

Terima kasih komentarnya. Memang sih kebanyakan petani berpikiran begitu karena mereka memang masih kekurangan. Hal ini juga mengakibatkan petani tidak begitu terlalu memikirkan pendidikan anak2nya kelak. Padahal yang menjadi pertanyaan bagi saya, jika petani secara garis besar ingin menyekolahkan anak2nya sampai jenjang perguruan tinggi, pasti sy yakin anak itu nggak akan mau lagi turun ke sawah. Nah, klo gitu jadinya repot juga kan karena nggak ada lagi penerus petani. Jadi, sapa dong pengganti petani di sawah, heehee

Ketika kita melihat realita petani di indonesia memang sungguh ironis sekali,menurut penelitian saya di lapangan hal ini trjadi akibat dari be2rapa faktor:
1.kesadaran petani dlm bertani msih rendah
2.kurangnya kesadaran akan pentingnya ilmu
3.manajemen bertaninya masih rendah
4.kepemilikan lahan sempit
5.petani indo kebanykan buruh tani
6.kurangnya akses ke luar
7.kurangnya kerjasama d antra klompok tani
8.SDM masih rendah
9.permodalan masih rendah
10.tdk ada’y jaminan dari pemerintah
11.harga yg tdk stabil
12.bnyaknya para tengkulak merajalela.

zepakat kita kazi kaya petani… baru kita kazi mizkin PNS
hahahaha… nda nyinggung bozzzzz

tapi ada yang unik
kakekku petani, nenekku petani, paceya petani, mace iztri petani, R125 terancam jadi petani…. tiap hari mereka bangun pagi, minum kopi dengan gula penuh zemut. zarapan “bale rakko”. ke zawah entar ziank kumpul2 makan pake alaz pizank. entar zore pulank mandi, makan malam tidur…
oenakkkk EEEE
malah mengeluh kalo tidak pigi mencakul ke zawah ka zakit zemua bede badannya (tau juga teori na zapa na pake itu indo ambo ku)

kira2 kalo petani kaya mazi bizaka zebahagia di ataz

tau yang bangun mazjid hj. amzik ato mazjid raoda di pettarani ujung jalan rappocini yang kayanya minta ampunk tapi zuzah tidur. akhirnya pigi jalan2 egh cemburuki ama tukang becak “biza2 na enak na tidurna baru talipat badanna di becak”…

ya geto dewh kalo zemua di liat dari zizi materi (doe–doe.. doe tyuwz)

coba di liat dari zizi “rezki”… mungkin zemua mau jadi petani

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Masukkan alamat emaill Anda untuk berlangganan blog ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui email.

Bergabunglah dengan 18 pengikut lainnya

Arsip Petani

Petani Tweet

Petani Stats

  • 142,631 Kunjungan Petani
%d blogger menyukai ini: